Quarter Life Crisis, Kedilemaan di Umur 25 Tahun

Punya temen ngobrol yang nyambung emang menyenangkan, saya sendiri di tempat kerjaan suka ngobrol dengan beberapa rekan kerja yang sepemikiran dan open minded dengan topik yang sedang dibahas.

Contohnya tentang masalah personal, dilemanya menghadapi kehidupan Quarter Life Crisis di Umur yang hampir 25 tahun.

Ngobrolin banyak hal tentang tujuan hidup, karir kerja masa datang, serta ke khawatiran akan kehidupan masa mendatang.

Yaa. Saya sedang mengalami itu.

Kedilemaan saya yang bekerja di suatu wilayah yang asing bagi saya walaupun sudah setahunan disini serta kekhawatiran apabila terlalu lama di perantauan.

Saya seringkali dengan frontal mengemukakan pendapat saya tentang hidup saya masa mendatang yang harus saya rubah. Jalan karir yang saya jalani sekarang jauh dari kata passion.

Keinginan terbesar adalah berkarir diluar negeri, kuliah dan menua disana jadi target kelak tujuan hidup mendatang.

Kehidupan saya disini baik – baik saja tanpa musuh ataupun masalah besar yang lain.

Hanya saja saya merasa ketidaknyamanan yang amat sangat. Jauh dari orang terdekat bahkan keluarga jadi Kedilemaan. Kadang suka berpikir hidup jauh dari orang tua tapi hidup gini – gini aja. Kenapa ga Coba sekalian jauh tapi nyaman dengan apa yang di Jalani.

Bukan berarti saya ingin jauh dengan keluarga loh ya. Cuma ingin peluang hidup yang lebih baik.

Kenapa peluang hidup yang lebih baik?

Sebenernya Gini, cita – cita terbesar saya adalah hidup dengan istri orang Indonesia sukur – sukur orang yang deket sama rumah, hidup dan tumbuh besar melihat anak – anak saya nanti dilingkungan yang open-minded dan pendidikan yang lebih maju. Saya cuma gamau hidup yang gini – gini aja. Monoton dan gak menikmati hidup.

Bukan Karena disini jelek atau bagaimana. TIDAK.

Tapi saya hanya tidak nyaman dengan kondisi saat ini. Keterbatasan banyak sekali. Saya sendiri merasa tidak berkembang. Bagaimana mungkin saya bisa menata hidup yang lebih baik kedepanya?

Soal asmara Saya mengutip satu paragraph dari artikel IDNtime.

Berbeda dengan pacaran di masa muda, pacaran di usia 25 tahunan barangkali membuatmu berbeda. Kalau tadinya kamu pacaran karena sekedar suka, sekarang kamu lebih ke arah mencari pasangan hidup. Tentunya kamu gak mau asal-asalan dan hanya memilih yang terbaik.

Saya bener – bener setuju. Untuk sekedar mencari pasangan sangat banyak faktor Yang perlu dipertimbangkan. Salah satunya adalah Apakah dia open-minded? Itu adalah kunci dari semua jawaban.

Mendidik dan berkeluarga butuh keterbukaan wawasan dan punya konsep. Saya menyukai cara belajar dengan metode homeschooling. Walaupun nantinya banyak pertimbangan dan mungkin akan memilih sekolah formal.

Tapi metode Yang saya pelajari, anak yang tumbuh kembangnya dikerucutkan dalam satu bidang yang disukai cenderung lebih maju 2 Langkah kedepan dibandingkan dengan yang lainnya.

Kembali ke QLC, Pada intinya adalah ketidaknyamanan, kehidupan yang begini – gini saja adalah kekhawatiran saya saat ini.

Beberapa langkah adalah dengan secepatnya mengambil kuliah diluar negeri dan merasakan atmosphere di benua lain.

Mencari pekerjaan sesuai bidang dan passion di LinkedIn juga jadi kebiasaan wajib dari Jaman kuliah.

Mungkin bukan saya saja yang mengalami kekhawatiran yang seperti ini. Berikan opini kalian dikolom komentar. Thanks

*Tulisan ini akan selalu Di update

 

Wicaksono, Satriyo Unggul

Indonesian Blogger, Designer,Web developer, Entrepreneur, Weather forecaster. Cita - cita: Bahagia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *